Powered By Blogger

Rabu, 07 Mei 2014

Sejarah Asal Mula Nama Minang Kabau









Setidaknya ada dua kerajaan yang nggak bisa ditaklukkan oleh Majapahit yakni Pajajaran dan Pagaruyung. Ya, Maha Patih Gajah Mada dengan Sumpah Hamukti Palapa-nya memang ingin membangkitkan kembali negeri Atlantis yang hilang. Penaklukan Kerajaan Pajajaran gagal, malah terjadi peristiwa yang sangat memilukan di lapangan Bubat, rombongan pengantin dari tanah Sunda itu habis dibantai prajurit Majapahit.
Lalu bagaimana dengan penaklukan Kerajaan Pagaruyung di tlatah Swarnadwipa alias Pulau Emas alias Sumatera itu? Gagal maning son (entah duluan yang mana, peristiwa Bubat dulu atawa datang ke Pagaruyung). Dari peristiwa di Kerajaan Pagaruyung inilah lahir sebuah legenda asal mula nama Minangkabau.
~oOo~
Arkian, telik sandi Pagaruyung berlari tergopoh-gopoh melaporkan kepada panglimanya, jika dalam waktu 2 pekan ke depan prajurit Majapahit akan tiba di perbatasan kerajaan. Melihat pasukan yang demikian banyak, dapat dipastikan kalau Majapahit hendak menyerang Pagaruyung. Apalagi sepak terjang Majapahit dalam menaklukkan negeri lain sudah menyebar seantero dunia.
Maka, informasi penting itu segera sampai di telinga Baginda Raja Pagaruyung. Ungkapan musuh pantang ditolak, jika pun datang pantang ditolak menjadi motto semangat prajurit Pagaruyung. Namun, sebagai raja yang arif dan bijaksana, Baginda tak mau gegabah dalam menentang pasukan Majapahit yang terkenal sangat tangguh itu.
Ia berpikir, bagaimana supaya peperangan nanti tidak memakan korban yang banyak? Mungkinkah?
Maka Baginda mengumpulkan para penasihat dan panglima kerajaan untuk menyusun strategi perang. O, semua strategi perang yang diusulkan semua akan memakan korban dan menyengsarakan rakyat Pagaruyung. Kemudian, salah seorang penasihat yang sedari tadi diam saja angkat tangan untuk memberikan sebuah usulan.
“Apa usulmu, Datuk Kyainyo?” tanya Baginda Raja.
“Dengan cara diplomasi, Bagindo….,” jawab Datuk Kyainyo mantap.
Secara panjang lebar Datuk Kyainyo memaparkan rencananya. Semua yang hadir sepakat dengan strategi yang akan dilaksanakannya itu. Baginda Raja sangat senang dan berharap rencana mereka dapat berjalan lancar.
~oOo~
Maka, hari yang ditunggu-tunggu itu tiba. Pasukan Majapahit mendirikan perkemahan di tapal batas Kerajaan Pagaruyung. Dari kejauhan, penjaga perkemahan melihat iring-iringan puluhan orang menuju perkemahan pasukan Majapahit. Semakin mendekati perkemahan, sosok puluhan orang itu terlihat semakin jelas. Orang-orang itu berpakaian adat Kerajaan Pagaruyung, terdiri dari para gadis nan elok dan pemuda nan rupawan. Mereka dipimpin oleh seorang lelaki tua, namun ia masih nampak perkasa.
Penjaga itu segera melaporkan apa yang ia lihat kepada panglimanya. Sebagai pasukan yang terlatih, para prajurit Majapahit segera bersiap siaga mengantisipasi apa yang akan terjadi. Panglima bergegas mendekati lelaki tua, pimpinan rombongan dari Kerajaan Pagaruyung.
“Kisanak, siapa kalian kok berani-beraninya mendekati perkemahan kami? Tahukah kalian, siapa kami?” kata panglima Majapahit jumawa.
“Kami datang ke sini untuk menyambut kedatangan tamu agung dari Majapahit. Selamat datang ke negeri Pagaruyung, Tuan. Mohon maaf jika sambutan kami kurang berkenan di hati,” kata pimpinan rombongan dari Pagaruyung, yang tak lain adalah Datuk Kyainyo.
Panglima Majapahit heran sekali dengan sambutan yang sangat hangat itu. Apakah orang-orang ini nggak paham, kalau kedatangan pasukan Majapahit hendak menyerang Pagaruyung?
~oOo~
Datuk Kyainyo dan rombongan mengantar Panglima Majapahit dan para pengawalnya ke istana untuk bertemu dengan Baginda Raja Pagaruyung.
Di istana, sambutan Baginda Raja membuat kikuk Panglima Majapahit. Betapa tidak, suasana istana tiada terlihat adanya ketakutan kalau mereka akan diserang oleh pasukan Majapahit.
“Baginda, maksud kedatangan kami membawa pesan Maha Patih Gajah Mada. Pagaruyung harus menjadi bawahan Majapahit. Nekjika Baginda menolak, dengan terpaksa kami akan menggunakan jalan peperangan. Pasukan kami telah siaga di tapal perbatasan,” akhirnya Panglima Majapahit tak tahan juga untuk menyampaikan tujuannya.
“Begini Panglima. Salam hormat kami kepada Maha Patih Gajah Mada dan Raja Hayam Wuruk yang perkasa. Kami negeri yang berdaulat, tak akan tunduk pada keinginan Majapahit. Tantangan Majapahit kami terima dengan lapang dada, namun….,” Baginda Raja jeda sejenak.
Baginda Raja lalu menawarkan pertarungan adu kerbau sebagai pengganti peperangan antara prajurit Majapahit melawan Pagaruyung. Semua itu dilakukan untuk menghindari pertumpahan darah prajurit dan rakyat Pagaruyung. Sungguh di luar dugaan, Panglima Majapahit sepakat dengan tawaran Baginda Raja.
“Tapi ada syaratnya, Baginda!” tukas Panglima Majapahit.
“Apa itu?” tanya Baginda, terkejut.
“Karena Majapahit kerajaan besar, kerbau jagoan kami harus lebih besar dari pada kerbau aduan milik Pagaruyung!” sahut Panglima.
Deal! Pucuk dicita ulam pun tiba. Sejauh ini, masih sesuai skenario dari rencana yang disusun oleh Baginda Raja dan para penasihatnya.
~oOo~
Dua kerbau siap diadu di tapal batas Pagaruyung. Kerbau milik Majapahit sangat besar, dengan tanduk yang melengkung besar. Sementara, kerbau milik Pagaruyung jauh lebih kecil, tanduknya belum tumbuh sempurna. Siapa pun akan menjagokan kerbau Majapahit yang akan memenangkan pertarungan.
Benarkah?  
Kerbau kecil itu sangat lincah. Ia selalu bisa menghindar saat tanduk kerbau besar hendak menyeruduknya. Hal itu membuat heran para prajurit Majapahit, karena mereka berharap kerbau besar jagoannya segera merobohkan kerbau kecil. Mereka salah duga. Pada saat yang tepat, kerbau kecil berhasil menancapkan tanduknya ke perut kerbau besar. Gerakan yang sama dilakukan berulang-ulang, hingga akhirnya kerbau besar terkapar di tanah. O la la, tak ada yang menyangka kalau sebetulnya kerbau kecil itu sebelumnya telah dilatih untuk bertarung1.
Teriakan rakyat Pagaruyung membahana di sekitar tempat pertarungan dua kerbau, “manang kabau…. manang kabau… manang kabau…..!” Panglima Majapahit mengaku kalah dan memerintahkan pasukannya untuk kembali ke Majapahit dengan lapang dada.
aku pulang….. tanpa dendam…. kuterima…. kekalahanku….2
‘Manang kabau’ atawa kerbau yang menang menjadi pembicaraan seantero negeri Pagaruyung. Lama kelamaan pengucapan ‘manang‘ berubah menjadi ‘minang‘ dan sejak itu wilayah di mana tempat bertarungnya dua kerbau dinamakan Nagari Minangkabau. Untuk mengenang peristiwa tersebut rakyat Pagaruyung membangun sebuah rumah berloteng yang atapnya menyerupai tanduk kerbau.


Catatan kaki:
1Sengaja saya membuat versi ini, rasanya lebih masuk akal daripada kisah dalam dongeng yang beredar selama ini yakni si anak kerbau dibuat tanduk buatan dari besi yang runcing atawa di versi lain pada moncong anak kerbau diberi besi berbentuk kerucut yang sangat mudah untuk melukai kerbau besar. Dongeng yang mengandung contoh kelicikan untuk memenangkan suatu pertandingan sering kita dijumpai,


Ref : http://padeblogan.com/2012/09/04/asal-mula-nama-minangkabau/

Sejarah Seni Beladiri





Menurut legenda, sumber dari semua ilmu beladiri yang ada didunia modern ini berasal dari india dalam hal ini Bodhidharma atau Daruma Taishi atau Tatmo Chouwsu. Ia hidup pada abad VI masehi.
Untuk misi pengembangan agama budha ke Cina, maka Bodhidharma melakukan perjalanan kaki seorang diri menembus “hutan belantara perawan” yang penuh dengan 1001 marabahaya, termasuk binatang buas, tetapi berkat ketegaran dan kemampuan seni beladirinya, Daruma Taishin berhasil tiba di Cina.
Bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa sekitar tahun 520 Masehi, seorang pendeta india bernama Daruma yang dilahirkan di kanchipuran dekat madras telah melakukan perjalanan ke Cina dalam hal ini kota kuang atau canton dimana disana pendeta itu bertemu dengan Wu Ti, seorang kaisar dari dinasti Liang. Dari sana ia melanjutkan perjalanan ke kerajaan Wei, dimana ia mendirikan kuil tempat pusat pengembangan Ajarannya.
Jika legenda tentang Daruma Taishi memang benar, maka jelas bahwa pendeta yang dimaksud itu adalah Daruma, orang yang mendirikan kuil shaolin.
Ia pertama kalinya hanya melatih spritual pada murid-muridnya tetapi lama kelamaan para muridnya semakin lemah dan sakit-sakitan, akhirnya ia tiba pada kesimpulan bahwa rohani dan jasmani harus diseimbangkan, maka dianjurkannya kepada murid-muridnya gerakan-gerakan jasmani seni beladiri, yang kemudian dikenal sebagai Kungfu Shaolin, dan oleh kalangan seni beladiri dipercayai sebagai sumber pertama seluruh seni beladiri yang ada didunia berasal dari Kungfu Shaolin.
Konon Daruma menurmuskan tehnik-tehnik shaolin kungfunya berdasarkan pada gerakan-gerkan binatang, yaitu : Macan, Beruang, Monyet, Bangau dan Rusa.
Didalam perkembangan selanjutnya dari beladiri cina itu kemudian muncul 4 jenis ilmu bela diri cina, yaitu :
  1. Aliran Keras                        : Shaolin Kungfu
  2. Aliran Lunak                       : Hsing’I
  3. Aliran Lunak                       : Pakua Chang
  4. Aliran Lunak                       : Tai Chi Cuen
Tetapi dulunya Daruma hanya membedakan keseluruhan tehnik-tehnik beladirinya atas 2 kelompok
  1. Kelompok tehnik keras                                  ( Go-Ho )
  2. Kelompok Tehnik Lunak                                ( Ju – Ho )
Pada waktu terjadinya “Perang boxer” yaitu pembasmian oleh tentara kerajaan pada pendeta-pendeta Budha dari kuil Shaolin yang sebahagian besar pendeta-pendeta Shaolin tewas terbunuh dalam pertempuran melawan tentara kaisar, tetapi masih ada diantara mereka yang berhasil lolos dan meninggalkan dataran Cina.
Pelarian-pelarian inilah yang menurut legenda merupakan cikal bakal timbulnya berbagai Ilmu Beladiri Asia, contohnya seperti :
Di Jepang ; Judo ( jalan kehalusan) diciptakan oleh mendiang dr. Jigaro kano, Jujitsu (tehnik kehalusan) merupakan seni beladiri klasik Jepang yang berasal dari masa samurai, Aikido (Ai=bertemu, Ki=Semangat, dan Do=Jalan). Didirikan oleh prof. Morihei  Ueshiba, Guru utama dari Morihei Ueshiba adalah Master Sokaku Takeda. Sumo ( seni beladiri Gulat tradisional Jepang ). Kenjitsu (ilmu pedang Jepang klasik). Bojitsu ( Seni Beladiri yang mengandalkan tongkat panjang). Naginata Jitsu (Seni Beladiri yang mengandaklan Pedang).
Di Birma; Bando (Seni beladiri asli tangan kosong). Banshei (seni beladiri menggunakan senjata) dan Kick-boxing tradisional (Seni beladiri tangan kosong yang menggunakan banyak tehnik tendangan).
Di Thailand; Thai Boxing (Seni beladiri baik tangan maupun kaki) dan Krabi krabong ( Seni beladiri menggunakan senjata).
Di Kampuchea, Laos, Vietnam; Tinju Tradisional dan Permainan senjata.
Di Malaysia; Bersilat
Di Indonesia; Pencak silat
Di Fhilipina; Eksrima (Seni beladiri yang mengandalkan tongkat sepanjang 75 cm)
Di Okinawa; Naha-Te ( Tangan Kota Naha ), Seni beladiri Okinawa yang berpusat di kota Naha, tokohnya adalah Master Kanryo Higaonna, guru dari Master Choyun Miyagi. Shuri-Te ( Tangan Kota Shuri ), Seni Beladiri yang berpusat dikota Shuri, tokohnya adalah Master Matsumura yang bergaya keras. Murid terkenal dari Shuri-Te nanti antara lain Ankoh Itosu, guru dari master gishin funakoshi, pendiri Shotokan Karate dan Tomari-Te ( Tangan Kota Tomari ), Seni beladiri Okinawa yang berpusat dikota Tomari.
Di Korea; Tae Kwon Do ( seni beladiri yang menitik beratkan pasda keterampilan kaki. Diciptakan oleh jenderal Choi Hong Hee. Tang Soo Do (Seni beladiri yang menitik beratkan pada penggunaan kaki diciptakan oleh Hwang Kee, sebagai gabungan unsur Karate Shotokan, Shaolin kungfu dan Tae Kyon). Hwa Rang Do ( seni beladiri tangan kosong Korea )
Salah seorang pelarian dari kuil Shaolin hanya mengunakan tehnik lunak dan sempat tiba di Jepang lalu mengembangkan Ilmunya, yaitu Jujitsu. Kemudian bersumber dari jujitsu ini muncul ilmu baru seperti Judo dan Aikido.
Demikian pula seorang yang bernama Doshin So, yang lahir pada tahun 1911 di jepang, murid dari Master Chin Ryo (beliau menguasai Shaolin Kungfu). Merumuskan lagi ilmu beladiri baru hasil kombinasi beladiri Jepang dan Cina, yang dinamai Shorinji Kempo, yang berarti “Ilmu tinju Kuil Shaolin” (shaolin Temple Fist Way) pada tahun 1946.

Ref : http://gojukaisulbar.wordpress.com/2012/10/27/8/

Sejarah Ip Man Wing Chun







Banyak cerita beredar tentang asal-usul beladiri Wing Chun, terutama Wing Chun aliran Ip Man. Ada yang mengatakan berasal dari pengamatan seorang gadis ahli beladiri, ketika sang gadis yang bernama Wing Chun itu secara tak sengaja melihat pertarungan antara seekor bangau dan ular. Pertarungan itu kemudian menginspirasinya untuk mengombinasikan ilmu beladiri dengan gerakan bangau dan ular, sehingga memiliki ciri khas dan jadilah Wing Chun yang diajarkan secara turun temurun hingga sekarang ini.


Meskipun banyak versi, tapi cerita  paling populer bermula dari biksuni (biksu wanita) yang melarikan diri ke Yunnan bernama Ng Mui. Dia merasa iba dengan seorang gadis bernama Wing Chun yang dipaksa menikah oleh kepala gangster yang menguasai daerah gadis jelita itu. Ng Mui bisa saja langsung menghajar kepala gangster itu untuk menolong Wing Chun, tapi risiko yang harus ditanggung terlalu besar, yaitu terlacak oleh tentara Qing yang sedang gencar memburunya. Ng Mui berpikir keras untuk menemukan metode yang singkat dan efektif untuk mengajari sang gadis beladiri. Singkat cerita setelah ditemukan cara yang efektif, Wing Chun belajar dengan sangat giat,agar bisa mengalahkan pria yang lebih besar dan ahli beladiri. Saat acara lamaran tiba kepala gangster itu pun kaget ketika gadis pujaannya menolak permintaannya, yang membuat emosinya naik, tapi hal itu tidak berguna ketika Wing Chun mampu mengalahkannya dengan mudah.

Wing Chun akhirnya menikah, dan mengajarkan beladiri ini kepada suaminya. Setelah itu secara turun temurun beladiri ini diturunkan dengan nama leluhurnya yaitu, Wing Chun. Tak banyak informasi yang bisa didapat tentang persebaran beladiri dari ini, tapi menjadi semakin terkenal ketika masa-masa Leung Jan, yang merupakan pendekar dan tabib yang terkenal di Fo Shan, yang kemudian menurunkan ilmunya pada anaknya Leung Bik, dan muridnya Chan Wah Sun. Dua murid besar inilah yang selanjutnya menjadi guru dari Great Grandmaster yang kelak akan mempopulerkan beladiri Wing Chun ke penjuru dunia, Ip Man.

 


Nama Bruce Lee pasti tidak asing di telinga kita, terutama bagi yang menyukai film aksi. Bruce Lee dikenal dengan gerakan-gerakan bela diri istimewa yang banyak membuat orang terkagum-kagum, bahkan tak jarang yang memutuskan untuk mempelajarinya. Aliran bela diri ini disebut dengan wing chun.

Popularitas wing chun semakin menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, sejak kemunculan film IP Man yang dibintangi Donnie Yen. Ip Man adalah guru Bruce Lee, yang memopulerkan bela diri ini.

Tidak ada kejelasan pasti siapa penemu wing chun. Sejarah wing chun lebih banyak diceritakan turun-temurun dari guru ke murid, dan tidak ada catatan resmi mengenai siapa yang menciptakan dan kapan diciptakan.

Berbagai filosofi dibuat untuk mengaburkan asal-usul pendiri wing chun. Menurut versi Ip Man, wing chun diciptakan oleh seorang pendeta wanita bernama Ng Mui. Suatu hari, Ng melihat pertarungan antara ular dan burung bangau, kemudian ia mengambil pelajaran dan mengombinasikannya dengan kungfu shaolin untuk menciptakan kungfu gaya baru.

Ng menjadi guru Yim Wingchun yang kala itu dipaksa menikah dengan jenderal militer setempat. Ng mengajari Yim ilmu barunya untuk menyingkirkan jenderal itu. Yim pun menikah dengan Leung Bok Chau dan menurunkan ilmu bela diri kepada suaminya. Leung menyebut teknik ini dengan nama "Wing Chun Kuen" untuk menghormati istrinya. Teknik inilah yang kini dikenal dengan nama "Wing Chun Kungfu".

Menurut instruktur wing chun di Indonesia, Martin Kusuma, asal-usul versi Ip Man tersebut belum pasti kebenarannya. "Memang sengaja dikaburkan. Waktu itu Hongkong sedang dalam masa perang. Kalau ketahuan pendirinya, pasti sudah dibunuh. Saat itu wing chun memang disebarkan secara tertutup."

"Cerita pendeta wanita itu memang filosofi yang paling terkenal. Tapi kalau ditelusuri, tidak mungkin. Secara logika, tidak ada pendeta wanita, semua pendeta itu laki-laki," terang Martin.

Martin mulai mendalami wing chun sejak 2010. Ia mempelajari bela diri ini langsung dari Samuel Kwok, yang merupakan murid dari anak kedua Ip Man, Ip Ching. "Setelah belajar dari Samuel Kwok, saya juga sempat belajar langsung dari Ip Ching. Sekarang beliau sudah 80 tahun dan masih mengajar. Kakaknya, Ip Chun, sudah 90 tahun dan juga masih mengajar," kata Martin.

Menurut penjelasan Martin, wing chun adalah bela diri yang bisa dilakukan siapa pun, tak terkecuali orangtua dan wanita. Alasannya, wing chun merupakan bela diri yang tidak menggunakan kekuatan. Dengan memusatkan gerakan pada sikut, para pengguna wing chun melakukan gerakan berdasarkan refleks.

"Intinya, ini adalah bela diri yang 'kosong tapi isi'. Semua gerakan dilakukan tanpa kekuatan, namun tetap bisa menghancurkan lawan," terang Martin.

Untuk bisa menguasai bela diri ini, setiap orang membutuhkan waktu yang berbeda. Ada yang bisa menguasainya hanya dalam tiga bulan, ada pula yang sudah lebih dari setahun namun belum bisa melakukan gerakan-gerakan wing chun dengan sempurna. Menurut Martin, akan lebih mudah mengajarkan seseorang yang belum memiliki dasar bela diri dibandingkan dengan yang sudah.

"Untuk belajar wing chun kita harus benar-benar rileks. Nah, mengubah seseorang yang memiliki dasar bela diri untuk bisa tetap rileks tidak gampang. Mereka tanpa sadar pasti akan bersikap siaga karena bela diri sebelumnya mengajarkan seperti itu," tuturnya.

Martin menjadi instruktur wing chun di tiga tempat di Jakarta, yakni Mangga Besar, Kelapa Gading, dan Senayan. Selain itu, program wing chun ini juga telah merambah ke Yogyakarta, Semarang, dan Solo.

 

Sumber :  http://olahraga.kompas.com/read/2013/11/30/1409121  /Wing.Chun.Bela.Diri.yang.Kosong.tapi.Isi.

http://wingchunyogyakarta.wordpress.com/sejarah-ip-man-wing-chun/